Forum Lingkar Pena Ranting Sekaran

Home » Forum Belajar Bersama » Menggali Ide Kreatif

Menggali Ide Kreatif

Dari Mana Datangnya Ide

Diambil dari Jurnal Paragraf

http://jurnalparagraph.blogspot.com/2009/08/bengkel-menulis-dari-mana-datangnya-ide.html

Disusun oleh: Denny Prabowo

Seorang penulis sudah semestinya adalah seorang pengamat. Penulis baik adalah pengamat yang baik. Pengamat yang baik selalu peka dan tertarik pada segala hal. Ketertarikan seorang penulis pada objek yang dianggap remeh dan biasa oleh sebagian orang, membuatnya tak akan pernah kehabisan cerita. Seperti menimbun ide di lumbung imaji.

Seorang penulis pernah berucap kalau dia tidak suka menulis tentang terminal atau pasar, karena menganggap tidak ada hal menarik untuk diceritakan. Bisa jadi dia bukan seorang yang kurang akrab dengan kehidupan di kedua tempat itu. Demikianlah sesungguhnya penulis itu tengah membangun jeruji besi yang siap memenjarakan imajinya. Tidak perlu heran apabila kelak penulis itu akan sering mengeluh tidak memiliki ide cerita untuk ditulisnya, karena dia—sadar maupun tidak sadar—telah membatasi cakrawala imajinya.

Bagaimana mungkin kita bisa menjadi pengamat yang baik, yang memiliki kepekaan, kalau kita membatasi ketertarikan pada sesuatu. Padahal, menjadi pengamat yang baik adalah kunci menjadi penulis yang baik, yang dengannya kita tak akan pernah kehabisan ide cerita untuk dituliskan.

Begitu banyak peristiwa terjadi di sekitar kita, dan kesemuanya adalah sumber cerita. Yang perlu dilakukan oleh seorang penulis hanya membuka mata dan telinga, biarkan imajinasi menyelesaikan tugasnya. Ada bermacam cara mendapatkan sumber cerita.

 

Pengalaman

Banyak pengarang mengatakan bahwa kita dapat menemukan cerita dari mana saja. Sumber terbaik cerita fiksi adalah pengalaman. Pengalaman ini tidaklah harus pengalaman pribadi. Bisa juga bersumber dari pengalaman orang lain.

Hamsad Rangkuti menulis cerpen “1000? 500? 1000?” berdasarkan pengalaman ketika dia naik bis kota. Waktu itu ongkos bus lima puluh rupiah. Dia memberikan lembaran seribu, tapi kata kenek waktu mengembalikan kembalian, berkeras kalau dia menyerahkan lembaran limaratus. Terjadi pertengkaran. Kenek tetap pada pendiriannya, begitupun dengan Hamsad Rangkuti.

Pengalaman adalah harta berharga bagi seorang penulis. Berapa usia anda? Ingat-ingat apa saja yang pernah anda alami, lalu tuliskan. Maka anda telah menyelesaikan sebuah cerita.

 

Pandangan Selintas

Suatu kali Hamsad Rangkuti melihat dari jendela bis seorang lelaki menekan kawat sinyal di sisi rentangan rel. Pada saat rentangan kawat sinyal itu ditekan, seorang wanita yang mengenakan kebaya melangkah di atas rentangan kawat sinyal itu. Setelah melintas wanita itu melemparkan sekeping uang ke dalam kaleng yang berada di sebelah tempat duduk si lelaki. Cuma itu yang dilihat Hamsad Rangkuti, sementara bis yang ditumpanginya tetap melaju. Dan dari pandangan selintas itu lahirlah sebuah cerpen berjudul: “Hukuman untuk Tom”.

Seekor anjing yang mengorek-korek bak sampah bisa jadi merupakan pemandangan biasa bagi kebanyakan orang. Tapi bagi penulis yang memiliki tingkat kepekaan yang cukup tinggi menjadi sangat tidak biasa sebab cakrawala imajinya akan mengajaknya segera berandai-andai.

Seandainya saja, seekor anjing yang mengorek-korek bak sampah itu tiba-tiba menemukan sebuah kardus berisi bayi, atau bisa saja anjing itu menemukan potongan tubuh. Dari pandangan selintas terhadap sebuah peristiwa yang dianggap biasa oleh kebanyakan orang itu, kita telah mendapatkan sebuah plot (rancangan cerita). Kemudian muculkan pertanyaan-pertanyaan. Semisal, apakah bayi di dalam kardus itu masih hidup? Atau sudah mati? Siapa yang membuangnya di tempat itu? Mengapa bayi itu harus dibuang? Apa yang kemudian dilakukan anjing itu? Dan ketika kita telah mendapatkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang kita susun, maka sebuah cerita telah selesai kita tuliskan.

 

Berita

Dalam sebuah workshop kepenulisan, Hamsad Rangkuti mengatakan, “Berita adalah kunci kontak kita menulis, dan SIM-nya adalah bahasa”. Hampir setiap hari kita melihat tayangan berita di televisi, membaca di koran, atau mendengarkan di radio. Ada anak membunuh bapaknya, ada paman memerkosa keponakannya, ada perampok nasabah ditembak kakinya, ada artis dipenjara karena kasus narkoba, ada anak kecil mencoba gantung diri karena belum membayar uang sekolah, ada sebuah desa terendam banjir, ada rumah teruruk longsoran sampah, ada pembantu disiksa majikannya, ada artis dipanggil polisi karena foto bugilnya. Begitu banyak peristiwa yang kita dapat dari media massa. Kita hanya perlu memilihnya satu saja untuk dijadikan cerita.

Dalam sebuah wawancara majalah dengan Gubernur Timor Timur saat itu, Mario Viegas Carrascalao, didapatlah sebuah fakta:

Pada akhir oktober saya menerima empat pemuda di ruangan saya, di antara mereka ada dua orang yang telinganya dipotong. Mereka suatu hari duduk di atas jembatan. Tiba-tiba muncul lima orang, tiga orang asal Timtim dan dua orang berasal dari luar Timtim. Langsung menangkap pemuda itu, dipukuli, dan telinganya dipotong.

Bagi seorang penulis, laporan semacam ini menantang untuk digarap menjadi sebuah cerita. Diapakan telinga-telinga yang dipotong itu? Maka Seno Gumira Ajidarama menuliskan sebuah cerita berjudul “Teling”, kisah seorang serdadu yang suka mengirimkan telinga kepada pacarnya, dan betapa bangga pacarnya menerima telinga-telinga itu.

 

Mitos

Begitu banyak mitos di negeri ini yang bisa digarap menjadi sebuah cerita. Salah satunya adalah mitos tentang kupu-kupu yang selalu dikaitkan dengan kedatangan seorang tamu. Dari mitos tersebut lahirlah sebuah cerita dari tangan Seno Gumira Ajidarama, “Ada Kupu-kupu, Ada Tamu”, yang berkisah tentang sebuah rumah yang suatu hari kedatangan kupu-kupu. Pemilik rumah lantas mempersiapkan perjamuan karena yakin kalau hari itu bakal datang seorang tamu ke rumahnya.

Masih banyak mitos-motos lain yang bisa digarap menjadi cerita. Mitos tentang burung gagak, misalnya. Keberadaan burung gagak sering dikaitkan dengan berita kematian. Suatu kali seekor gagak hinggap di atap rumah seorang warga. Seorang tetangganya melihat hal itu. Dia yakin sekali kalau mitos itu benar. Dia memeringati pemilik rumah itu agar berhati-hati. Tetapi pemilik rumah itu tidak percaya dengan mitos. Tetangganya itupun menguntit ke manapun pemilik rumah itu pergi untuk membuktikan mitos itu benar. Tapi sampai sebuah mobil menerjang tubuhnya saat dia berusaha menyusul pemilik rumah menyeberang jalan, dia belum berhasil membuktikan kebenaran mitos itu.

 

Dongeng

Berapa banyak dongeng yang pernah ada dengar? Dongeng-dongeng yang pernah anda dengar merupakan sumber cerita potensial yang bisa digarap. Pilih saja salah satu, lalu tuliskan kembali dengan melakukan perubahan pada ending cerita, atau bahkan memutar balikkan logika.

Bagaimana sendainya pangeran tampan tak pernah menemukan sepatu kaca milik Cinderella? Atau bagaimana seandainya saja sepatu kaca yang ditemukan pangeran ternyata cukup saat dipakai oleh saudara tiri Cinderella? Lalu bagaimana jika Jaka Tarub salah mencuri selendang Nawangwulan, bidadari yang ditaksirnya, dengan selendang milik bidadari lainnya? Atau malah Jaka tarub tak pernah mencuri selendang milik Nawangwulan, padahal bidadari itu berharap sekali selendangnya dicuri? Pertanyaan-pertanyaan itu akan mengantarkan anda pada sebuah cerita yang baru.

 

Mencuri dari Buku

Dalam sebuah workshop teater, Slamet Raharjo Jarot mengatakan, bahwa karya yang telah dipublikasi bebas ditafsir ulang oleh pembaca. Kalau karya kita tak mau ditafsir orang, maka simpan saja di dalam lemari. Begitu banyak kisah cinta masa kini yang dituliskan berdasarkan karya Sakespear, Romeo dan Juliet. Bahkan kisah Romeo dan Juliet pun disinyalir terinspirasi dari kisah Laila Maj’nun.

Sapardi Djoko Damono menafsir ulang karya Samuel Backett yang sangat ternama, “Waiting for Godot” . Dalam naskah drama itu, Samuel backett beranggapan bahwa manusia menunggu maut. Sapardi memutar balikkan logikanya, bukan manusia yang menunggu maut, tapi manusia yang ditunggu oleh maut lewat cerpennya, “Ditunggu Dogot”

 

Sejarah

Sejarah merupakan catatan sebuah peristiwa. Oleh sebabnya dia telah memenuhi unsur sebuah cerita. Kita bisa menghadirkan sejarah ke dalam cerita yang kita tulis dengan menghadirkan tokoh fiktif. Misalnya saja catatan sejarah tentang G30S PKI. kita bisa menceritakan malam pembantaian 7 jendral itu lewat sudut pandang orang yang melakukan penyiksaan. Atau kita bisa membayangkan diri kita sebagai Ade Irma Suryani, yang turut menjadi korban dalam peristiwa itu.

Begitu banyak cerita yang mengambil latar sejarah. Salah satunya film “Kingdom of Heaven” yang mengambil latar sejarah perang salib di Jerusalem. Di Indonesia sendiri kita memiliki film “Cut Nyak Dien”. Yang mungkin paling terkenal adalah sejarah tenggelamnya kapal Titanic. Peristiwa sejarah itu mengantarkan kita pada sebuah kisah cinta yang lebih kurang seperti Romeo dan Juliet, tentang cinta yang dipertentangkan karena status sosial yang berbeda. Kehidupan di dunia telah berlangsung begitu lama, sejak jaman Adam as., sampai sekarang, telah begitu banyak peristiwa yang dicatatkan sebagi sebuah sejarah. Dari satu peristiwa sejarah saja, kita bisa membuat bermacam cerita lewat sudut pandang berbeda-beda.


3 Comments

  1. ansitorini says:

    tengkyu… bermanfaat sekali 🙂 setidaknya untuk saya yg lg semangat nulis tp malah belum menemukan hal yg ingin dituliskan.

  2. Nanda says:

    Banyak kok hal diluar sana yang bisa kita jadiin topik dalam menulis tapi itu tergantung gimana kita mengolahnya,,,,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: